Lembar menu

Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2013

HUBUNGAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PADA STRATEGI PEMBELAJARAN

Tahun 2013 merupakan tahun Pemerintahan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kembali mencanangkan kurikulum baru. Kurikulum ini menjadi kurikulum 2013, dimana sebelumnya Kemendikbud menerapkan sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terhadap seluruh instansi pendidikan atau sekolah di seluruh Indonesia. Perubahan kurikulum ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali ditetapkan, tetapi bahkan telah berkali-kali dilakukan. Bukan hanya terjadi di tahun setelah 1945 atau masa setelah kemerdekaan tetapi juga di masa sebelumnya yakni masa pemerintahan VOC Belanda.

Hal inilah menjadi suatu pemikiran bahwa menerapkan suatu kurikulum pendidikan itu tidaklah mudah. Terutama yang terjadi di Indonesia khususnya. Melihat dari kurikulum di tahun setelah kemerdekaan Indonesia (1945) saja yang mungkin bagi siswa-siswa saat ini telah melewati berbagai periode seperti Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006, dan terakhir KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) ini. Kemudian selanjutnya, ada kurikulum 2013. Berbagai sebab pun menjadi alasan terjadinya berkali-kali perubahan kurikulum ini.
 


Perubahan-perubahan yang terjadi pada kurikulum pendidikan yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini karena terus berusaha untuk menetapkan sistem kurikulum yang cocok untuk Indonesia. Terlihat begitu sulitnya untuk menetapkan kurikulum ini. Hal ini tentu saja karena beragamnya kondisi Indonesia. Salah satu hasilnya seperti yang telah disebutkan tadi adalah Kurikulum 2013. Dan untuk masing-masing kurikulum tersebut memiliki tujuan masing-masing yang khusus untuk diterapkan bagi peserta didik. Khususnya untuk Kurikulum 2013 ini yang lebih menekankan pengembangan peserta didik dalam pendidikan yang bersifat akademik menjadi dua bagian, yakni akademik dan karakter.

Dalam kurikulum 2013 ini, perubahan pendidikan yang bersifat akademik ini berubah menjadi pendidikan secara akademik dan pendidikan secara karakter. Bahkan untuk pendidikan secara karakter ini lebih ditekankan terhadap tingkat pendidikan dasar atau TK dan SD. Hal ini terjadi karena menurut Kemendikbud terkait, karakter merupakan pondasi suatu pendidikan. Untuk itulah dalam pengembangan pendidikan akademik dan karakter ini terjadi pula perubahan dalam strategi pembelajaran. Strategi-strategi pembelajaran ini pun perlu untuk dibenahi agar sesuai dengan tujuan kurikulum 2013 ini. Karena perubahan kurikulum dan strategi-strategi pembelajaran ini saling berkaitan. Dan dengan menerapkan strategi pembelajaran yang tetap tentu saja keberhasilan perubahan kurikulum pun dapat tercapai.

Strategi pembelajaran ini terdiri dari tiga bagian, yaitu strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran dan strategi pengelolaan pembelajaran. Menurut Reigeluth, Bunderson dan Meril (1977) menyatakan strategi mengorganisasi isi pelajaran disebut sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutn dan mensistesis fakata, konsep, prosedur dan prinsisp yang berkaitan. Kemudian, untuk strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Dan terakhir untuk strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pembelajar dengan variabel metode pembelajaran lainnya.

Lebih lanjutnya lagi, strategi pembelajaran ini memiliki berbagai istilah, diantaranya metode, pendekatan, teknik atau taktik dalam pembelajaran. Masing-masing metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, metode ini juga merupakan cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi, sehingga strategi pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan berbagai metode. Kemudian, ada pendekatan yang merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Pendekatan ini ada dua dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct-instruction), pembelajaran deduktif atau pembelaran ekspositori. Dan untuk pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta pembelajaran induktif. Selanjutnya, teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Dan terakhir, taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu dan untuk taktik ini sifatnya individual.
 
Berdasarkan hal itu pulalah, perlu diadakan pemilihan dan menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Salah satunya adalah dalam menerapakan metode pembelajaran. Metode pembelajaran ini merupakan bagian dari strategi pembelajaran, dimana metode pembelajaran berfungsi sebagai cara menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memeberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metode pembelajaran sesuai digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Metode pembelajaran ini seperti, metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, penampilan, metode studi mandiri, pembelajaran terprogram, latihan sesama teman, simulasi karyawisata, induksi, deduksi, simulasi, studi kasus, pemecahan masalah, insiden, seminar, bermain peran, proyek, praktikum dan lain-lain. Dan masing-masing metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan tugas gurulah untuk memilih metode-metode pembelajaran tersebut.

Oleh karena itu, dalam pemilihan strategi pembelajaran ini memiliki dasar pemilihannya. Yaitu, dengan menentukan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini memiliki unsur-unsur seperti, Audience (peserta didik), Behavior (perilaku yang harus dimiliki), Condition (kondisi dan situasi), dan Degree (kualitas dan kuantitas hasil belajar). Selanjutnya, menentukan aktivitas dan pengetahuan awal siswa, menentukan integritas bidang studi atau poko bahasan, menentukan alokasi waktu dan sarana penunjang, menentukan jumlah siswa, serta menentukan pengalaman dan kewibawaan pengajar.

Kembali lagi, berdasarkan point-point tersebut tentang strategi pembelajaran dan terutama yang terakhir dasar pemilihan strategi inilah menentukan bagaimana proses kurikulum yang ingin diterapkan. Sehingga untuk strategi pembelajaran ini sangat berhubungan dengan pengembangan kurikulum tersebut. Tanpa adanya strategi pembelajaran yang baik dan tepat, bukan tidak mungkin penerapan kurikulum pun belum tentu tepat. Selain itu, bahkan untuk Kurikulum 2013 berbagai tekanan dalam proses pengembangannya. Seperti, tantangan masa depan, kompetensi masa depan, persepsi masyarakat, fenomena negatif yang mengemuka, dan perkembangan pengetahuan dan pedagogi.

Tekanan-tekanan tersebutlah yang juga dapat menentukan strategi pembelajaran ini. Bahkan, untuk saat ini menurut sumber terkait dalam implementasi kurikulum 2013 dapat dilakukan pendekatan pembelajaran secara scientific atau pendekatan ilmiah. Hal ini karena pendekatan pembelajaran ini dirasa cocok untuk Kurikulum 2013 sekarang. Tetapi, tentu saja Ketentuan tentang Kurikulumlah menentukan. Ketentuan ini berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama dalam Pasal 38 (KTSP), Penjelasan Bagian Umum (KBK), dan Penjelasan Pasal 35 ( lingkup Kompetensi). Dan Kemendikbud yang akan meneliti dan memprosesnya untuk mencapai pendidikan yang baik di Indonesia.

Sumber terkait:
-14-KODE-03-B5-Strategi-Pembelajaran-dan-Pemilihannya.pdf
- Presentation Kurikulum 2013 di SPs UPI (3).pdf
-http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/07/pendekatan-scientific-dalam-implementasi-kurikulum-2013.html(diakses pada tanggal 20 Oktober 2013 pukul 20.00 WIB)






Sabtu, 12 Oktober 2013

MACAM-MACAM MODEL KONSEP KURIKULUM



Kurikulum merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.
Sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.

Ada  4 aliran atau teori pendidikan yang  memiliki model konsep kurikulum dan praktek pendidikan yang berbeda. Empat aliran pendidikan ini, yaitu pendidikan klasik, pribadi, teknologi, dan interaksionis. Empat aliran atau teori pendidikan tersebut memiliki model konsep kurikulum dan praktik pendidikan yang berbeda. Model konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulum humanistik, teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis, dan dari pendidikan interaksionis disebut kurikulum rekostruksi sosial.

A.    Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik , yang berorientasi pada masa lalu, isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli , masing – masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis , logis , dan solid.
Kurikulum subjek akademis adalah model konsep kurikulum tertua dan masih sering dipakai sampai saat ini, karena kurikulum ini cukup praktis, mudah disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Pada kurikulum ini, orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru.
Isi pendidikan disesuaikan dengan displin ilmu. Para pengembang kurikulum tidak perlu menyusun dan mengembangkan bahan sendiri, melainkan cukup mengorgansisasi secara sistematis mengenai isi materi yang dikembangkan para ahli disiplin ilmu, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya. Kurikulum ini sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual.
Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Salah satu contoh kurikulum yang berdasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man: A Course of Study (MACOS). MACOS adalah kurikulum untuk sekolah dasar, terdiri atas buku-buku, film, poster, rekaman, permainan, dan perlengkapan kelas lainnya. Kurikulum ini ditujukan untuk mengadakan penyempurnaan tentang pengajaran ilmu sosial dan humanitas, dengan pengarahan dan bimbingan Brunner. Sasaran utama kurikulum MACOS adalah perkembangan kemampuan intelektual, yaitu membangkitkan penghargaan dan keyakinan akan kemampuan sendiri dan memberikan serangkaian cara kerja yang memungkinkan anak walaupun dengan cara sederhana mampu menganalisis kehidupan sosial.

Ada 3 pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis, yaitu:
1.   Melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan.
Murid-murid belajar bagaimana memperoleh dan menguji fakta, serta bukan sekedar mengingatnya.
2.   Studi yang bersifat integratif
Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atas fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada. Maka, dikembangkan suatu model kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum). Ada beberapa ciri model kurikulum yang dikembangkan:
·  Menentukan tema-tema yang membentuk satu kesatuan (unifying theme)
·  Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa disiplin ilmu.
·  Menyatuka berbagai cara/metode belajar.
3.    Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.

Ciri-ciri kurikulum subjek akademis yaitu sebagai berikut:
a.    Bertujuan untuk pemberian ide pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”.
b.    Metode yang paling sering digunakan adalah metode ekspositori dan inkuiri.
c.    Materi/ide-ide diberikan oleh guru yang kemudian dielaborasi oleh siswa sampai terkuasai, dengan proses sebagai berikut: konsep utama disusun secara sistematis, kemudian dikaji, selanjutnya dicari berbagai masalah penting, kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.

Pola-pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis diantaranya sebagai berikut:
1)      Correlated curriculum adalah pola organisasi materi atau konsep suatu pelajaran yang dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
2)      Unifyied atau  Concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran displin ilmu.
3)      Integrated curriculum yaitu sama halnya dengan unifyied curriculum, namun yag membedakan pada integrated curriculum tidak nampak lagi displin ilmunya. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupa tertentu.
4)      Problem solving curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yag diperoleh dari berbagai displin ilmu.

d.   Metode evaluasi, yaitu kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi, namun lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay) dari pada tes objektif.

B.     Kurikulum Humanistik
Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (persoznalized educationi) yaitu John Dewey dan J.J. Rousseau. Konsep ini lebih mengutamakan siswa yang merupakan subjek yang menjadi pusat utama kegiatan pendidikan. Selain itu, pendidik humanis lebih juga berpegang pada konsep Gestalt, bahwa seorang anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja dari segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain). 
Pandangan mereka berkembang sebagai reaksi terhadap pendidikan yang lebih menentukan segi intelektual dengan peran utama dipegang oleh guru. Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana yang permisif, rilek, dan akrab. Berkat situasi tersebut anak dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa, bagaimana merasakan dan bersikap terhadap sesuatu. Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari linkungan. Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistic yaitu pendidikan: konfluen, kritikilisme radikal, dan minikisme modern.

Ada tiga aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik, yaitu:
1.    Pendidikan Konfluen, menekankan keutuhan pribadi, individu harus merespons secara utuh (baik segi pikiran, perasaan, maupun tindakan), terhadap kesaruan yang menyeluruh dari lingkungan. Kurikulum konfluen memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut:
1)   Partispasi, kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam belajar.
2)   Integrasi, adanya interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan dan juga tindakan.
3)   Relevasi, adanya kerelevanan is kurikulum antara kebutuhan, minat dan kehidupan murid.
4)   Pribadi anak, memberikan tempat utama pada pribadi anak untuk berkembang dan beraktualisasi potensi secara utuh.
5)   Tujuan, memiliki tujuan mengembangka pribadi yang utuh.
2. Kritikisme Radikal, pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.
3. Mistikisme Modern, yaitu aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya.

Karakteristik Kurikulum Humanistik :
a.    Berkenaan dengan tujuan , metode , organisasi isi dan evaluasi
b.    Menuntut hubungan yang emosional yang baik antara guru dan murid
c.    Menekankan integrasi
d.   Evaluasi , lebih mengutamakan proses daripada hasil. Dan tidak memiliki kriteria pencapaian. Sasaran kurikulum ini adalah perkembangan anak agar menjadi manusia yang lebih terbuka dan lebih mandiri.

C.    Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Pada kurikulum ini, pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, dan kerja sama. Kerja sama dan interaksi yag terjadi bukan hanya antara guru dan siswa, melainkan antara siswa dengan siswa, siswa dengan lingkungan serta siswa dengan sumber belajar lainnya.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold Rug melihat adanya kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Rug menginginkan siswa dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial sehingga diharapkan dapat menciptakan masyarakat baru yang lebih stabil.
Theodore Brameld, pada awal tahu 1950-an menyampaikan gagasanya tentang rekonstruksi sosial. Untuk melaksanakan hal itu, sekolh mempunyai kewajiban membantu individu mengembangkan kemampuan sosialnya dan membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.

Ciri-ciri desain kurikulum rekonstruksi sosial adalah sebagai berikut:
1.    Bertujuan utama menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia dalam masyarakat.
2.    Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
3.    Pola-pola organsasi kurikulum ini disusun seperti sebuah roda, ditengah-tengahnya sebagai poros merupakan masalah yang menjadi tema utama.

Kurikulum rekonstruksi sosial memiliki komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum lain tetapi isi dan bentuk-bentuknya berbeda. Komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosial adalah sebagai berikut:
a) Tujuan dan isi kurikulum.
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah.
b) Metode.
Bagi rekonstruksi sosial, belajar merupakan kegiatan bersama, ada kebergantungan antara seorang dengan lainnya, tidak ada kompetisi, yag ada adalah kerjasama, pengertian dan konsensus.
c) Evaluasi.
Siswa dilibatkan dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan.

Untuk pelaksanaan pengajaran rekonsruksi sosial, Harold G. Shane menyarankan para pengembang kurikulum, agar mempelajari kecenderungan (trends) perkembangan. Kecenderungan utama adalah perkembangan teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap kondisi dan perkembangan masyarakat. Kecenderungan lain adalah perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Sedangkan “pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosial”, yaitu  “rekonstruksi sosial” banyak dilaksanakan didaerah yang belum maju dan tingkat ekonominya masih rendah. Pengajaran diarahkan untuk meningkatkan kondidi kehidupan mereka sesuai potensi yang ada dalam masyarakat , biaya dari pemerintah.

D.    Kurikulum Teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dibidang pendidikan berkembang juga teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang lebih besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit dan ahirnya menjadi prilaku-prilaku yang dapat diamati atau diukur.
Contohnya, sejak dulu pendidikan telah menggunakan teknologi, seperti papan tulis, kapur, dan lain-lain. Namun, sekarang seiring dengan kemajuan teknologi  banyak alat (tool) seperti audio,video, overhead projector, film slide, dan motion film, serta banyak alat-alat lainnya.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum dibagi dalam dua bentuk, yaitu:
1.    Perangkat lunak (software) atau disebut juga teknologi sistem (system technology). Pada bentuk ini, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis yang menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan.
2.    Perangkat keras (hardware) atau sering disebut juga teknologi alat (tools technology). Pada bentuk ini, lebih menekankan kepada penyusuna program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem.

Ciri-ciri kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologis pendidikan (kurikulum teknologis), yaitu:
a.    Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku. Tujuan-tujuan yang bersifat umum yaitu kompetensi dirinci menjadi tujuan-tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuan instruksional.
b.    Metode yang digunakan biasanya bersifat individual, kemudian pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
o  Penegasan tujuan kepada siswa.
o  Pelaksanaan pengajaran
o  Pengetahuan tentang hasil
o  Organisasi bahan ajar
o  Evaluasi

Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa kriteria, yaitu:
1. Prosedur pengembagan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain.
2.  Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikan hasil yang sama.
Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.

Dalam pengembangan kurikulum teknologis kerjasama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik serta media cetak. Pengembangan pengajaran yang betul-betul berstruktur dan bersatu dengan alat dan media membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ini merupakan hambatan utama dalam pengembangan kurikulum teknologis.

Sumber:
http://auliagustina.blogspot.com/2011/03/macam-macam-model-konsep-kurikulum.html (dikutip dari: Syaodih S., Nana. 2001. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Rosda)

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERDASARKAN LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN



            Dalam pengembangan kurikulum memerlukan berbagai aspek landasan dalam pengembangannya. Salah satu aspek penting itu adalah berdasarkan landasan psikologis pendidikan. Oleh karena itu, pentingnya mengembangkan kurikulum berdasarkan landasan psikologis pendidikan ini.
            Sebelum itu, menurut Suyitno, pendidikan adalah suatu kegiatan yang menyangkut interaksi kejiwaan antara pendidik dan peserta didik dalam suasana nilai-nilai budaya suatu masyarakat (sebagai lingkungan pendidikan) yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Kegiatan pendidikan tersebut selalu melibatkan aspek-aspek, seperti kejiwaan, kebudayaan, kemasyarkatan, norma-norma dan kemanusiaan. Berdasarkan pengertian tersebut, selanjutnya, landasan psikologis pendidikan adalah kajian tentang aspek-aspek psikologis yang dapat menjadi dasar pemahaman bagi calon pendidik untuk mengenali, menghayati dan mengaplikasikan konsep-konsep perkembangan psikologis dari peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan [1].
            Selain itu, menurut David Pratt dalam Curriculum Design and Development (1980 : 4) mendefenisikan kurikulum secara sederhana, yaitu sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat latihan. Dan menurut Winarno Surahmad (1977 : 5),  Kurikulum merupakan suatu yang dijadikan pedoman dalam segala kegiatan pendidikan yang dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Atas dasar hal tersebut, kurikulum kemudian dapat didefenisikan sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu [2].
            Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka  antara kurikulum dan pendidikan adalah dua hal yang berkaitan. Begitupun dengan pendidikan dan psikologis berkaitan erat, sehingga kurikulum akan berhubungan pula dengan psikologis pendidikan khususnya. Seperti, yang telah disebutkan tadi, maka hubungan kurikulum dan psikologis pendidikan ini adalah hubungan antara tujuan pendidikan. Artinya, pendidikan harus mencapai tujuan pendidikan dan kurikulumlah yang  dapat mencapai tujuan pendidikan tersebut dimana kurikulum ini berdasarkan aspek psikologis pendidikan pula.  
Selanjutnya, dalam proses pengembangan sebuah kurikulum yang berlandaskan psikologis pendidikan ini adalah dalam proses perubahan perilaku peserta didik. Maka, kurikulum ini menjadi suatu alat untuk mengubah perilaku peserta didik yang sesuai dengan tujuan pendidikan tadi. Sehingga, unsur dalam proses pengembangan kurikulum ini bersumber dalam bidang psikologis. untuk tujuan kurikulum setiap satuan pendidikan harus mengacu pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagai mana telah ditetapkan pada UU no.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lebih luasnya, kurikulum merupakan sesuatu alat pendidikan dalam rangka pengembangan SDM yang berkualitas. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan dan pembelajaran unutuk mencapai target tujuan pendidikan nasional khususnya dan SDM yang berkualitas umumnya. Tujuan itu dikategorikan sebagai tujuan umum kurikulum. Dan jika tujuan umum kurikulum ini dapat tercapai maka, tujuan pendidikan pun dapat tercapai optimal.
Oleh karena itu,  terdapat dua cabang ilmu psikologi pendidikan yang berkaitan erat dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum [3].
Hal ini pulalah dimana perkembangan yang dialami oleh peserta didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar-mengajar. Dan guru sebagai pendidiklah harus mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal, sehingga proses pembelajaran perlu memperhatikan psikologis perkembangan dan psikologi belajar tersebut.penguasaan guru tentang psikologi pendidikan ini merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru,
Kaitannya dengan kurikulum maka, untuk psikologi perkembangan diperlukan  dalam hal penentuan isi kurikulum yang diberikan/dipelajari peserta didik, baik tingkat kedalaman dan keluasan materi, tingkat kesulitan dan kelayakannya serta manfaatnya yang disesuaikan dengan tahap dan tugas perkembangan peserta didik. dan psikologi belajar sebagai strategi pelaksanaan kurikulum.  
            Seperti sekarang ini, dimana kembali lagi terjadi perubahan pengembangan kurikulum. Yakni, saat ini terjadi perubhan pengembangan kurikulum menjadi kurikulum 2013. Seperti yang katakan oleh Staf ahli Mendikbud Prof Kacung Marijan MA menegaskan bahwa kementerian itu akan melakukan perubahan kurikulum pendidikan nasional mulai 2013 untuk menyeimbangkan aspek akademik dan karakter, bahkan pendidikan karakter akan lebih banyak di tingkat pendidikan dasar atau TK dan SD, karena karakter itu merupakan pondasi pendidikan[4].
            Berdasarkan hal itu pulalah, maka untuk khususnya kurikulum 2013 ini mementingkan landasan psikologis pendidikan. Terlihat dari kurikulum 2013 ini lebih mengutamakan pada aspek akademik dan karakter. Karakter disinilah yang perlu memerhatikan landasan psikologis pendidikan, yaitu psikologis perkembangan dan psikologis belajar tadi.
            Jadi, aspek landasan psikologis pendidikan dalam perubahan pengembangan kurikulum ini sangat penting. Dengan berhasilnya menerapakan landasan psikologis pendidikan dalam kurikulum maka tujuan kurikulum bahkan lebih luasnya tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Terutama untuk sekarang ini, dalam mengembangkan kurikulum 2013.

Sumber:
Suyitno, Y. 2012. Landasan Psikologis Pendidikan. Sub Koordinat MKDP Landasan Pendidikan FIP UPI, Bandung.