Lembar menu

Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2014

DAMPAK PENGEMBANGAN KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN

- Pengertian Pendidikan dan Kurikulum

Sebelum mengetahui apa dampak pengembangan kurikulum dalam pendidikan ini, setidaknya perlu mengetahui terlebih dahulu pengertian pendidikan dan kurikulum ini.

Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran anak didik agar memperoleh suatu ilmu pengetahuan yang memadai dan berorientasi pada pengembangan anak didik dalam rangka memelihara dan meningkatkan martabat manusia dan budaya demi memuliakan Tuhan.

Pendidikan dilaksanakan sesuai dengan perkembangan anak. Kecepatan perkembangan masing-masing tidak selalu sama. Sehingga dalam hal ini tidak lepas dari perhatian pendidik. Pendidikan memberi perhatian kepada kemampuan masing-masing anak didik. Anak didik kita tidak sama dalam kemampuannya. Oleh karena itu pendidikan hendaknya melayani kebutuhan anak-anak yang begitu bervariasi.

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Apabila masyarakat dinamis, kebutuhan anak didikpun akan dinamis sehingga tidak tersaing dalam masyarakat, karena memang masyarakat berubah berdasarkan kebutuhan itu sendiri.

Kurikulum juga sebagai pedoman mendasar dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu pendidikan, mampu tidaknya seorang anak didik dan pendidik dalam menyerap dan memberikan pengajaran, dan sukses tidaknya suatu tujuan. Bila kurikulumnya didesain dengan sistematis dan komprehensif serta integral dengan segala kebutuhan pengembangan dan pembelajaran anak didik untuk mempersiapkan diri mengahadapi kehidupannya, tentu hasil / output pendidikanpun akan mampu mewujudkan harapan. Tetapi jika tidak, kegagalan demi kegagalan akan terus menerus membayangi dunia pendidikan.

- Dampak Pengembangan Kurikulum

Setelah mengetahui pengertian pendidikan dan kurikulum tersebut, kesimpulannya, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Kurikulum mencerminkan falsafah atau pandangan hidup bangsa ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan itu kelak akan ditentukan oleh kurikulum yang digunakan oleh bangsa tersebut sekarang.

Kurikulum dapat memberikan sebuah hasil dari pendidikan atau pengajaran yang diharapkan karena ia menunjukkan apa yang harus dipelajari dan kegiatan apa yang harus dialami oleh peserta didik. Jika kurikulum di rubah, pastinya akan terdapat sebuah permasalahan yang akan terbeban.

Adapun, terjadinya pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.

Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.

Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang terlalu sering akan membawa dampak juga. Kurikulum pendidikan memang akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Konsekuensi logisnya adalah bahwa setiap negara tidak bisa hanya terpaku pada suatu kurikulum lama saja, karena boleh jadi kurikulum yang dipakai sudah kuno dan usang.

Namun hal itu bukan merupakan alasan untuk terus “bongkar-pasang” kurikulum. Apalagi dalam waktu yang singkat, hanya berselang beberapa tahun kurikulum sudah diganti lagi. Bukan tidak baik mengganti kurikulum yang ada. Image-nya akan baik jika kurikulum tersebut matang dan dapat mewakili semua keadaan dan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut. Jangan sampai justru sebaliknya. Penggantian kurikulum hanya akan membuat bingung peserta didik tentang hal apa yang mereka akan pelajari.

Pengembangan kurikulum secara terus-menerus juga berdampak pada pola pikir para peserta didik. Misalnya, orang-orang yang angkatan belajarnya menggunakan kurikulum lama cenderung lebih monoton dalam cara belajarnya. Mereka belajar dari pola-pola yang dianjurkan oleh para guru dan sebatas mendapatkan pengetahuan dari gurunya saja. Lain halnya dengan orang-orang cetakan KBK yang cenderung ingin mendapatkan info lebih daripada info yang mereka dapatkan dari gurunya. Hal ini hanya dampak kecil yang boleh dinilai agak baik apabila kurikulumnya dilaksanakan secara menyeluruh sehingga hanya dipengaruhi oleh satu kurikulum saja. Tapi dampak besar terjadi pada pola pikir orang-orang yang berada pada zaman peralihan, yaitu orang-orang yang merasakan semua kurikulum. Misalnya SD dengan kurikulum 1994, SMP dengan kurikulum 2004 dan KBK, KBK belum selesai sudah diganti KTSP. Tidak dapat dibayangkan bagaimana pola pikir yang berbekas pada mereka.

Selain itu tidak terjadi sinkronisasi antara kurikulum lama dengan yang baru. Tidak sedikit pun orang-orang yang sekolah dengan kurikulum lama tidak dapat bekerja karena standar pendidikan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Sehingga terpaksa mereka harus sekolah kembali untuk dapat menyesuaikannya. Dan entah apalagi yang akan terjadi dimasa mendatang sebagai korban dari pergantian kurikulum yang tidak terstruktur.

Semua hal tersebut menunjukkan tidak terstrukturnya pembentukan kurikulum yang ada. KBK yang baru setengah jalan diganti dengan KTSP. Padahal apabila satu kurikulum yang ada diimplementasikan secara menyeluruh akan membuahkan hasil yang baik pula. Sebenarnya yang dibutuhkan bukan penggantian sistem kurikulum, melainkan penyempurnaan (revisi) kurikulum. Cukup 1 kurikulum saja, dengan catatan dapat mewakili semua hal dan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut dan akan terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tujuan-tujuan yang belum tercapai di masa lalu.

Tanpa disadari perubahan ini membawa dampak negatif terhadap siswa karena perubahan ini tidak disepakati terlebih dahulu dan cenderung dipaksakan.

Jika perubahan kurikulum ini tetap dilaksanakan, mungkin banyak siswa atau para wali murid yang akan terbebankan. Hal ini disebabkan karena memicu banyak persyaratan diantaranya harus membeli buku baru untuk memenuhi persyaratan tersebut. Adapun penambahan jadwal dan jam pelajaran yang semakin panjang, dan itu harus dipersiapkan betul-betul.

Sehingga dapat diketahui kurikulum sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar siswa. Jika kurikulum tetap dilaksanakan tapi seorang pendidik tidak dapat bekerja dengan pasti, itu tidak akan membuahkan hasil. Sebelum perubahan kurikulum dilaksanakan sebaiknya seorang guru dapat diketahui kemampuannya akan perubahan kurikulum baru. Jika memang mampu, maka tidak perlu diperlukan lagi untuk melaksanakan perubahan itu. Terdapat fungsi dan peran pengembangan kurikulum yang dapat kita ketahui.

Sumber:
o Paul Suparno, SJ, R. Rohadi, G. Sukadi dan St. Kartono, Reformasi Pendidkan, Yogyakarta : Kanisius, 2006
o Dr. Abdullah Idi, M.Ed., Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Yogyakarta : Ar-ruzz Medra, 2007
o Nugroho, Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Berbasis Stakeholders, 2008
( Terangkum dalam, http://indriatisukorini.wordpress.com/2009/03/16/indryktp08-6/)
o Chamisijatin, Lisa, dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum SD. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
o Cienurani. 2008. Revisi Kurkulum. (http://cienurani.blog.com/ diakses pada tanggal 20 Nopember 2008).
o Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
o Sudrajat, Akhmad. 2008. Pengembangan Kurikulum (http://istpi. wordpress.com/2008/10/27/pengembangan-kurikulum/ diakses pada tanggal 20 Nopember 2008).
o ———-. 2008. Pengertian Kurikulum. (http://akhmadsudrajat.wordpress .com/2008/07/08/pengertian-kurikulum/ diakses pada tanggal 20 Nopember 2008).
(Terangkum dalam, https://sites.google.com/site/putraandesnata/faktor-yang-mempengaruhi-pengembangan-kurikulum)
http://zulfaidah-indriana.blogspot.com/2013/02/perubahan-kurikulum-pendidikan-di.html
http://mahaniulfa.blogspot.com/2012/12/dampak-kurikulum-baru-untuk-masa-depan.html
http://daratunisa.wordpress.com/kurikulum-pendidikan-indonesia/

Minggu, 20 Oktober 2013

HUBUNGAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PADA STRATEGI PEMBELAJARAN

Tahun 2013 merupakan tahun Pemerintahan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kembali mencanangkan kurikulum baru. Kurikulum ini menjadi kurikulum 2013, dimana sebelumnya Kemendikbud menerapkan sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terhadap seluruh instansi pendidikan atau sekolah di seluruh Indonesia. Perubahan kurikulum ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali ditetapkan, tetapi bahkan telah berkali-kali dilakukan. Bukan hanya terjadi di tahun setelah 1945 atau masa setelah kemerdekaan tetapi juga di masa sebelumnya yakni masa pemerintahan VOC Belanda.

Hal inilah menjadi suatu pemikiran bahwa menerapkan suatu kurikulum pendidikan itu tidaklah mudah. Terutama yang terjadi di Indonesia khususnya. Melihat dari kurikulum di tahun setelah kemerdekaan Indonesia (1945) saja yang mungkin bagi siswa-siswa saat ini telah melewati berbagai periode seperti Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006, dan terakhir KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) ini. Kemudian selanjutnya, ada kurikulum 2013. Berbagai sebab pun menjadi alasan terjadinya berkali-kali perubahan kurikulum ini.
 


Perubahan-perubahan yang terjadi pada kurikulum pendidikan yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini karena terus berusaha untuk menetapkan sistem kurikulum yang cocok untuk Indonesia. Terlihat begitu sulitnya untuk menetapkan kurikulum ini. Hal ini tentu saja karena beragamnya kondisi Indonesia. Salah satu hasilnya seperti yang telah disebutkan tadi adalah Kurikulum 2013. Dan untuk masing-masing kurikulum tersebut memiliki tujuan masing-masing yang khusus untuk diterapkan bagi peserta didik. Khususnya untuk Kurikulum 2013 ini yang lebih menekankan pengembangan peserta didik dalam pendidikan yang bersifat akademik menjadi dua bagian, yakni akademik dan karakter.

Dalam kurikulum 2013 ini, perubahan pendidikan yang bersifat akademik ini berubah menjadi pendidikan secara akademik dan pendidikan secara karakter. Bahkan untuk pendidikan secara karakter ini lebih ditekankan terhadap tingkat pendidikan dasar atau TK dan SD. Hal ini terjadi karena menurut Kemendikbud terkait, karakter merupakan pondasi suatu pendidikan. Untuk itulah dalam pengembangan pendidikan akademik dan karakter ini terjadi pula perubahan dalam strategi pembelajaran. Strategi-strategi pembelajaran ini pun perlu untuk dibenahi agar sesuai dengan tujuan kurikulum 2013 ini. Karena perubahan kurikulum dan strategi-strategi pembelajaran ini saling berkaitan. Dan dengan menerapkan strategi pembelajaran yang tetap tentu saja keberhasilan perubahan kurikulum pun dapat tercapai.

Strategi pembelajaran ini terdiri dari tiga bagian, yaitu strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran dan strategi pengelolaan pembelajaran. Menurut Reigeluth, Bunderson dan Meril (1977) menyatakan strategi mengorganisasi isi pelajaran disebut sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutn dan mensistesis fakata, konsep, prosedur dan prinsisp yang berkaitan. Kemudian, untuk strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Dan terakhir untuk strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pembelajar dengan variabel metode pembelajaran lainnya.

Lebih lanjutnya lagi, strategi pembelajaran ini memiliki berbagai istilah, diantaranya metode, pendekatan, teknik atau taktik dalam pembelajaran. Masing-masing metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, metode ini juga merupakan cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi, sehingga strategi pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan berbagai metode. Kemudian, ada pendekatan yang merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Pendekatan ini ada dua dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct-instruction), pembelajaran deduktif atau pembelaran ekspositori. Dan untuk pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta pembelajaran induktif. Selanjutnya, teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Dan terakhir, taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu dan untuk taktik ini sifatnya individual.
 
Berdasarkan hal itu pulalah, perlu diadakan pemilihan dan menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Salah satunya adalah dalam menerapakan metode pembelajaran. Metode pembelajaran ini merupakan bagian dari strategi pembelajaran, dimana metode pembelajaran berfungsi sebagai cara menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memeberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metode pembelajaran sesuai digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Metode pembelajaran ini seperti, metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, penampilan, metode studi mandiri, pembelajaran terprogram, latihan sesama teman, simulasi karyawisata, induksi, deduksi, simulasi, studi kasus, pemecahan masalah, insiden, seminar, bermain peran, proyek, praktikum dan lain-lain. Dan masing-masing metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan tugas gurulah untuk memilih metode-metode pembelajaran tersebut.

Oleh karena itu, dalam pemilihan strategi pembelajaran ini memiliki dasar pemilihannya. Yaitu, dengan menentukan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini memiliki unsur-unsur seperti, Audience (peserta didik), Behavior (perilaku yang harus dimiliki), Condition (kondisi dan situasi), dan Degree (kualitas dan kuantitas hasil belajar). Selanjutnya, menentukan aktivitas dan pengetahuan awal siswa, menentukan integritas bidang studi atau poko bahasan, menentukan alokasi waktu dan sarana penunjang, menentukan jumlah siswa, serta menentukan pengalaman dan kewibawaan pengajar.

Kembali lagi, berdasarkan point-point tersebut tentang strategi pembelajaran dan terutama yang terakhir dasar pemilihan strategi inilah menentukan bagaimana proses kurikulum yang ingin diterapkan. Sehingga untuk strategi pembelajaran ini sangat berhubungan dengan pengembangan kurikulum tersebut. Tanpa adanya strategi pembelajaran yang baik dan tepat, bukan tidak mungkin penerapan kurikulum pun belum tentu tepat. Selain itu, bahkan untuk Kurikulum 2013 berbagai tekanan dalam proses pengembangannya. Seperti, tantangan masa depan, kompetensi masa depan, persepsi masyarakat, fenomena negatif yang mengemuka, dan perkembangan pengetahuan dan pedagogi.

Tekanan-tekanan tersebutlah yang juga dapat menentukan strategi pembelajaran ini. Bahkan, untuk saat ini menurut sumber terkait dalam implementasi kurikulum 2013 dapat dilakukan pendekatan pembelajaran secara scientific atau pendekatan ilmiah. Hal ini karena pendekatan pembelajaran ini dirasa cocok untuk Kurikulum 2013 sekarang. Tetapi, tentu saja Ketentuan tentang Kurikulumlah menentukan. Ketentuan ini berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama dalam Pasal 38 (KTSP), Penjelasan Bagian Umum (KBK), dan Penjelasan Pasal 35 ( lingkup Kompetensi). Dan Kemendikbud yang akan meneliti dan memprosesnya untuk mencapai pendidikan yang baik di Indonesia.

Sumber terkait:
-14-KODE-03-B5-Strategi-Pembelajaran-dan-Pemilihannya.pdf
- Presentation Kurikulum 2013 di SPs UPI (3).pdf
-http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/07/pendekatan-scientific-dalam-implementasi-kurikulum-2013.html(diakses pada tanggal 20 Oktober 2013 pukul 20.00 WIB)






Sabtu, 12 Oktober 2013

MACAM-MACAM MODEL KONSEP KURIKULUM



Kurikulum merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.
Sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.

Ada  4 aliran atau teori pendidikan yang  memiliki model konsep kurikulum dan praktek pendidikan yang berbeda. Empat aliran pendidikan ini, yaitu pendidikan klasik, pribadi, teknologi, dan interaksionis. Empat aliran atau teori pendidikan tersebut memiliki model konsep kurikulum dan praktik pendidikan yang berbeda. Model konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulum humanistik, teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis, dan dari pendidikan interaksionis disebut kurikulum rekostruksi sosial.

A.    Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik , yang berorientasi pada masa lalu, isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli , masing – masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis , logis , dan solid.
Kurikulum subjek akademis adalah model konsep kurikulum tertua dan masih sering dipakai sampai saat ini, karena kurikulum ini cukup praktis, mudah disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Pada kurikulum ini, orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru.
Isi pendidikan disesuaikan dengan displin ilmu. Para pengembang kurikulum tidak perlu menyusun dan mengembangkan bahan sendiri, melainkan cukup mengorgansisasi secara sistematis mengenai isi materi yang dikembangkan para ahli disiplin ilmu, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya. Kurikulum ini sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual.
Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Salah satu contoh kurikulum yang berdasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man: A Course of Study (MACOS). MACOS adalah kurikulum untuk sekolah dasar, terdiri atas buku-buku, film, poster, rekaman, permainan, dan perlengkapan kelas lainnya. Kurikulum ini ditujukan untuk mengadakan penyempurnaan tentang pengajaran ilmu sosial dan humanitas, dengan pengarahan dan bimbingan Brunner. Sasaran utama kurikulum MACOS adalah perkembangan kemampuan intelektual, yaitu membangkitkan penghargaan dan keyakinan akan kemampuan sendiri dan memberikan serangkaian cara kerja yang memungkinkan anak walaupun dengan cara sederhana mampu menganalisis kehidupan sosial.

Ada 3 pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis, yaitu:
1.   Melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan.
Murid-murid belajar bagaimana memperoleh dan menguji fakta, serta bukan sekedar mengingatnya.
2.   Studi yang bersifat integratif
Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atas fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada. Maka, dikembangkan suatu model kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum). Ada beberapa ciri model kurikulum yang dikembangkan:
·  Menentukan tema-tema yang membentuk satu kesatuan (unifying theme)
·  Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa disiplin ilmu.
·  Menyatuka berbagai cara/metode belajar.
3.    Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.

Ciri-ciri kurikulum subjek akademis yaitu sebagai berikut:
a.    Bertujuan untuk pemberian ide pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”.
b.    Metode yang paling sering digunakan adalah metode ekspositori dan inkuiri.
c.    Materi/ide-ide diberikan oleh guru yang kemudian dielaborasi oleh siswa sampai terkuasai, dengan proses sebagai berikut: konsep utama disusun secara sistematis, kemudian dikaji, selanjutnya dicari berbagai masalah penting, kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.

Pola-pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis diantaranya sebagai berikut:
1)      Correlated curriculum adalah pola organisasi materi atau konsep suatu pelajaran yang dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
2)      Unifyied atau  Concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran displin ilmu.
3)      Integrated curriculum yaitu sama halnya dengan unifyied curriculum, namun yag membedakan pada integrated curriculum tidak nampak lagi displin ilmunya. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupa tertentu.
4)      Problem solving curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yag diperoleh dari berbagai displin ilmu.

d.   Metode evaluasi, yaitu kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi, namun lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay) dari pada tes objektif.

B.     Kurikulum Humanistik
Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (persoznalized educationi) yaitu John Dewey dan J.J. Rousseau. Konsep ini lebih mengutamakan siswa yang merupakan subjek yang menjadi pusat utama kegiatan pendidikan. Selain itu, pendidik humanis lebih juga berpegang pada konsep Gestalt, bahwa seorang anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja dari segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain). 
Pandangan mereka berkembang sebagai reaksi terhadap pendidikan yang lebih menentukan segi intelektual dengan peran utama dipegang oleh guru. Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana yang permisif, rilek, dan akrab. Berkat situasi tersebut anak dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa, bagaimana merasakan dan bersikap terhadap sesuatu. Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari linkungan. Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistic yaitu pendidikan: konfluen, kritikilisme radikal, dan minikisme modern.

Ada tiga aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik, yaitu:
1.    Pendidikan Konfluen, menekankan keutuhan pribadi, individu harus merespons secara utuh (baik segi pikiran, perasaan, maupun tindakan), terhadap kesaruan yang menyeluruh dari lingkungan. Kurikulum konfluen memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut:
1)   Partispasi, kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam belajar.
2)   Integrasi, adanya interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan dan juga tindakan.
3)   Relevasi, adanya kerelevanan is kurikulum antara kebutuhan, minat dan kehidupan murid.
4)   Pribadi anak, memberikan tempat utama pada pribadi anak untuk berkembang dan beraktualisasi potensi secara utuh.
5)   Tujuan, memiliki tujuan mengembangka pribadi yang utuh.
2. Kritikisme Radikal, pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.
3. Mistikisme Modern, yaitu aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya.

Karakteristik Kurikulum Humanistik :
a.    Berkenaan dengan tujuan , metode , organisasi isi dan evaluasi
b.    Menuntut hubungan yang emosional yang baik antara guru dan murid
c.    Menekankan integrasi
d.   Evaluasi , lebih mengutamakan proses daripada hasil. Dan tidak memiliki kriteria pencapaian. Sasaran kurikulum ini adalah perkembangan anak agar menjadi manusia yang lebih terbuka dan lebih mandiri.

C.    Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Pada kurikulum ini, pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, dan kerja sama. Kerja sama dan interaksi yag terjadi bukan hanya antara guru dan siswa, melainkan antara siswa dengan siswa, siswa dengan lingkungan serta siswa dengan sumber belajar lainnya.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold Rug melihat adanya kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Rug menginginkan siswa dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial sehingga diharapkan dapat menciptakan masyarakat baru yang lebih stabil.
Theodore Brameld, pada awal tahu 1950-an menyampaikan gagasanya tentang rekonstruksi sosial. Untuk melaksanakan hal itu, sekolh mempunyai kewajiban membantu individu mengembangkan kemampuan sosialnya dan membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.

Ciri-ciri desain kurikulum rekonstruksi sosial adalah sebagai berikut:
1.    Bertujuan utama menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia dalam masyarakat.
2.    Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
3.    Pola-pola organsasi kurikulum ini disusun seperti sebuah roda, ditengah-tengahnya sebagai poros merupakan masalah yang menjadi tema utama.

Kurikulum rekonstruksi sosial memiliki komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum lain tetapi isi dan bentuk-bentuknya berbeda. Komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosial adalah sebagai berikut:
a) Tujuan dan isi kurikulum.
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah.
b) Metode.
Bagi rekonstruksi sosial, belajar merupakan kegiatan bersama, ada kebergantungan antara seorang dengan lainnya, tidak ada kompetisi, yag ada adalah kerjasama, pengertian dan konsensus.
c) Evaluasi.
Siswa dilibatkan dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan.

Untuk pelaksanaan pengajaran rekonsruksi sosial, Harold G. Shane menyarankan para pengembang kurikulum, agar mempelajari kecenderungan (trends) perkembangan. Kecenderungan utama adalah perkembangan teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap kondisi dan perkembangan masyarakat. Kecenderungan lain adalah perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Sedangkan “pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosial”, yaitu  “rekonstruksi sosial” banyak dilaksanakan didaerah yang belum maju dan tingkat ekonominya masih rendah. Pengajaran diarahkan untuk meningkatkan kondidi kehidupan mereka sesuai potensi yang ada dalam masyarakat , biaya dari pemerintah.

D.    Kurikulum Teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dibidang pendidikan berkembang juga teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang lebih besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit dan ahirnya menjadi prilaku-prilaku yang dapat diamati atau diukur.
Contohnya, sejak dulu pendidikan telah menggunakan teknologi, seperti papan tulis, kapur, dan lain-lain. Namun, sekarang seiring dengan kemajuan teknologi  banyak alat (tool) seperti audio,video, overhead projector, film slide, dan motion film, serta banyak alat-alat lainnya.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum dibagi dalam dua bentuk, yaitu:
1.    Perangkat lunak (software) atau disebut juga teknologi sistem (system technology). Pada bentuk ini, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis yang menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan.
2.    Perangkat keras (hardware) atau sering disebut juga teknologi alat (tools technology). Pada bentuk ini, lebih menekankan kepada penyusuna program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem.

Ciri-ciri kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologis pendidikan (kurikulum teknologis), yaitu:
a.    Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku. Tujuan-tujuan yang bersifat umum yaitu kompetensi dirinci menjadi tujuan-tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuan instruksional.
b.    Metode yang digunakan biasanya bersifat individual, kemudian pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
o  Penegasan tujuan kepada siswa.
o  Pelaksanaan pengajaran
o  Pengetahuan tentang hasil
o  Organisasi bahan ajar
o  Evaluasi

Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa kriteria, yaitu:
1. Prosedur pengembagan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain.
2.  Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikan hasil yang sama.
Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.

Dalam pengembangan kurikulum teknologis kerjasama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik serta media cetak. Pengembangan pengajaran yang betul-betul berstruktur dan bersatu dengan alat dan media membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ini merupakan hambatan utama dalam pengembangan kurikulum teknologis.

Sumber:
http://auliagustina.blogspot.com/2011/03/macam-macam-model-konsep-kurikulum.html (dikutip dari: Syaodih S., Nana. 2001. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Rosda)